Departemen Antropologi Sosial kembali menyelenggarakan agenda rutin Rapat Bulanan pada Senin, 12 Januari 2026. Bertempat di Ruang Sidang Departemen, pertemuan ini menjadi momen krusial untuk mengawali tahun dengan koordinasi yang solid. Rapat dipimpin langsung oleh jajaran pimpinan departemen dan dihadiri oleh segenap staf pengajar guna membahas berbagai agenda strategis yang akan menentukan arah kebijakan departemen selama satu tahun ke depan.

Fokus utama dalam pembukaan rapat adalah mengenai administrasi akademik, khususnya penentuan Surat Keputusan (SK) pembimbing bagi mahasiswa. Departemen menyadari bahwa ketepatan waktu dalam penerbitan SK pembimbing merupakan kunci utama dalam mendukung percepatan masa studi mahasiswa. Diskusi berlangsung cukup hangat guna memastikan distribusi beban bimbingan tersebar secara merata dan sesuai dengan kepakaran masing-masing dosen.

Agenda kemudian berlanjut pada momen transisi kepemimpinan melalui pemilihan Ketua Program Studi (Prodi) S2 Antropologi. Mengingat tantangan pendidikan pascasarjana yang semakin dinamis, pemilihan ini dilakukan dengan mempertimbangkan visi pengembangan riset dan peningkatan akreditasi di tingkat internasional. Departemen berharap ketua prodi yang terpilih nantinya mampu membawa napas baru bagi pengembangan literatur dan metodologi antropologi di tingkat lanjut.

Selain pergantian kepemimpinan di tingkat prodi, rapat juga menetapkan Ketua Gugus Kendali Mutu (GKM) untuk jenjang S2. Peran GKM menjadi sangat vital sebagai garda terdepan dalam menjaga standar kualitas pembelajaran dan penjaminan mutu internal. Dengan penetapan ini, diharapkan setiap proses akademik di program magister dapat terpantau dan terevaluasi secara sistematis demi mencapai keunggulan kompetitif.

Melangkah ke aspek penguatan jejaring, Departemen Antropologi merumuskan rancangan roadshow tahun 2026. Program roadshow ini direncanakan akan menyasar berbagai instansi mitra, sekolah menengah, hingga komunitas adat di berbagai daerah. Tujuannya jelas: untuk memperkuat branding departemen, menjaring calon mahasiswa potensial, serta membuka peluang kolaborasi riset etnografi yang lebih luas dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Pembahasan mengenai Rencana Anggaran dan Kerja Tahunan (RAKT) juga menjadi poin yang tidak kalah penting. Setiap unit kerja mempresentasikan kebutuhan prioritas mereka, mulai dari pengadaan fasilitas laboratorium antropologi hingga pendanaan riset kolektif. Sinkronisasi anggaran ini dilakukan agar setiap rupiah yang dikeluarkan dapat menunjang indikator kinerja utama (IKU) universitas dan memberikan manfaat maksimal bagi civitas akademika.

Di sela-sela pembahasan formal, rapat ini juga menjadi wadah bagi para dosen untuk saling bertukar pikiran mengenai tren isu-isu kebudayaan terkini yang bisa diintegrasikan ke dalam kurikulum. Semangat kolaboratif terlihat jelas saat para peserta rapat memberikan masukan terkait inovasi metode pengajaran berbasis proyek (project-based learning) agar mahasiswa lebih siap menghadapi tantangan zaman yang semakin digital.

Ketua Departemen menekankan bahwa tahun 2026 harus menjadi tahun "akselerasi". Semua perencanaan yang telah disusun, mulai dari penguatan struktural hingga rencana aksi di lapangan, harus dijalankan dengan komitmen tinggi. Kerja sama antar lini, mulai dari administrasi hingga praktisi pendidikan, menjadi fondasi utama agar Departemen Antropologi Sosial tetap menjadi pionir dalam studi kemanusiaan dan kebudayaan.

Rapat bulanan ini ditutup dengan optimisme tinggi dan kesepakatan mengenai linimasa pengerjaan tugas-tugas yang telah didelegasikan. Dengan selesainya pembahasan mengenai SK pembimbing, restrukturisasi pimpinan prodi, hingga pemantapan anggaran, Departemen Antropologi Sosial siap melangkah pasti menyongsong tahun 2026. Informasi lebih lanjut mengenai hasil-hasil keputusan rapat dapat diakses oleh staf melalui portal internal departemen.