Departemen Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas kembali menyelenggarakan kegiatan akademik berupa Kuliah Umum Antropologi sebagai bagian dari upaya memperkuat peran ilmu antropologi dalam menjawab isu-isu strategis nasional. Kuliah umum ini mengangkat tema Satu Abad Perkembangan Antropologi: Dari Mana Hendak ke Mana?"

Ilmu Antropologi, sebagai disiplin yang mempelajari manusia secara holistik budaya, masyarakat, dan evolusinya telah melewati perjalanan yang panjang dan transformatif. Memperingati satu abad perkembangannya, sebuah seminar akademik penting telah diselenggarakan oleh Antropologi Sosial, FISIP Universitas Andalas pada Sabtu, 6 Desember 2025, bertempat di Gedung Pascasarjana FISIP Universitas Andalas, Kampus Jati Padang.

Seminar yang bertajuk "Satu Abad Perkembangan Antropologi: Dari Mana Hendak ke Mana?" ini menghadirkan sosok akademisi terkemuka, Prof. Dr. Irwan Abdullah, Guru Besar Antropologi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), sebagai narasumber utama. Acara ini dipandu dengan apik oleh Muhammad Arya Diva sebagai Master of Ceremony (MC), dan diskusi mendalam difasilitasi oleh Fatimah Azzahra sebagai moderator.

§  Fase-Fase Kunci Perkembangan Antropologi

Dalam paparannya, Prof. Irwan Abdullah mengulas secara tajam periodisasi perkembangan ilmu Antropologi, membaginya ke dalam fase-fase penting yang menandai pergeseran fokus, metodologi, dan peran disiplin ilmu ini di tengah masyarakat.

Antropologi Klasik (Awal Abad ke-20). Prof. Irwan memulai dengan menyoroti fase awal, di mana Antropologi dikenal dengan studi masyarakat primitif atau masyarakat non-Barat. Fokus utamanya adalah etnografi deskriptif, di mana para peneliti berusaha mendokumentasikan kebudayaan yang dianggap 'asing' sebelum tergerus modernisasi.

"Pada masa ini, Antropologi berhadapan dengan konsep evolusi kebudayaan. Para antropolog klasik berupaya membangun teori-teori universal tentang masyarakat manusia. Isu-isu tentang kolonialisme memang tak terhindarkan, namun fondasi metodologi lapangan, yakni observasi partisipatif, diletakkan dengan kokoh," jelas Prof. Irwan.

Antropologi Pasca-Perang Dunia (Pertengahan Abad ke-20). Setelah Perang Dunia II, terjadi pergeseran besar. Fokus kajian mulai beralih dari masyarakat 'terasing' menjadi isu-isu yang lebih kontemporer, seperti kemiskinan, pembangunan, dan perubahan sosial pasca-kolonial.

Metodologi Antropologi semakin matang, bergerak melampaui deskripsi semata menuju analisis struktural dan fungsional. Antropologi mulai terlibat dalam proyek-proyek pembangunan nasional di berbagai negara.

Antropologi Kontemporer (Akhir Abad ke-20 hingga Kini). Fase ini ditandai dengan munculnya Antropologi Post-Modern yang kritis terhadap narasi tunggal dan representasi tunggal. Antropologi tidak lagi hanya meneliti masyarakat lain, melainkan juga masyarakat sendiri (studying up).

"Kajian Antropologi meluas ke area-area baru: Antropologi Media, Antropologi Digital, Antropologi Kesehatan, hingga Antropologi Perkotaan. Antropolog kini tidak hanya berada di desa-desa terpencil, tetapi juga di ruang-ruang siber, di laboratorium bioteknologi, dan di kantor-kantor pemerintahan," imbuhnya.

§  Ke Mana Antropologi Hendak Bergerak?

Pertanyaan utama yang menjadi inti seminar, Dari Mana Hendak ke Mana?, dijawab oleh Prof. Irwan melalui tiga proyeksi masa depan bagi Antropologi.

-     Keterlibatan Publik dan Solusi Praktis

Antropologi tidak bisa lagi hanya menjadi ilmu menara gading. Prof. Irwan menekankan pentingnya Antropologi Terapan (Applied Anthropology). Disiplin ini harus mampu menyajikan analisis budaya yang mendalam untuk mengatasi masalah-masalah global yang kompleks, seperti perubahan iklim, konflik identitas, dan disrupsi teknologi. Antropolog diharapkan menjadi jembatan antara kebijakan dan pemahaman akar rumput.

-     Antropologi Multispesies dan Posthumanisme

Di masa depan, batas antara 'manusia' dan 'non-manusia' (hewan, teknologi, lingkungan) semakin kabur. Prof. Irwan memprediksi bahwa Antropologi akan semakin terlibat dalam kajian Multispesies dan Posthumanisme, yang mengkaji hubungan timbal balik antara manusia, makhluk hidup lain, dan teknologi.

-     Revitalisasi Etnografi di Era Digital

Etnografi, metode khas Antropologi, harus beradaptasi. Penelitian lapangan kini harus mencakup ruang virtual. Etnografi Digital menjadi kunci untuk memahami bagaimana kebudayaan dan interaksi sosial direproduksi, dimediasi, dan bertransformasi di platform-platform digital. Studi tentang fake news, identitas virtual, dan komunitas online akan menjadi core business Antropologi.

§  Sesi Diskusi dan Penutup

Sesi diskusi yang dimoderatori oleh Fatimah Azzahra berjalan sangat dinamis. Peserta seminar, yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, dan praktisi, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai tantangan etik dan metodologis dalam penelitian online, serta peran Antropologi dalam merespons polarisasi politik yang semakin tajam.

Prof. Irwan Abdullah menyimpulkan bahwa satu abad perjalanan telah membuktikan bahwa Antropologi adalah ilmu yang luwes, selalu mampu menyesuaikan diri dengan konteks zamannya. Masa depan Antropologi terletak pada kemampuannya untuk tetap kritis, kontekstual, dan berkontribusi nyata pada pemahaman dan penyelesaian persoalan kemanusiaan di dunia yang semakin kompleks.

Seminar ini ditutup dengan harapan besar bahwa ilmu Antropologi, dengan warisan metodologisnya yang unik, akan terus menjadi panduan esensial untuk memahami dari mana manusia berasal dan ke mana arah peradaban akan melangkah.