
Departemen Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas kembali menyelenggarakan kegiatan akademik berupa Kuliah Umum Antropologi sebagai bagian dari upaya memperkuat peran ilmu antropologi dalam menjawab isu-isu strategis nasional. Kuliah umum ini mengangkat tema Pendekatan Antropologi Untuk Respons Bencana " Integrasi Budaya Lokal, Dinamika Sosial, Dan Perumusan Kebijakan Publik"
Bencana alam sering kali dipandang hanya dari sudut pandang teknis, angka-angka kerugian, dan rekayasa infrastruktur. Namun, di balik itu semua, ada dinamika manusia yang jauh lebih kompleks. Membuka rangkaian acara Opening Antrofest 2025, Departemen Antropologi menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk "Pendekatan Antropologi untuk Respon Bencana: Integrasi Budaya Lokal, Dinamika Sosial, dan Perumusan Kebijakan Publik" pada Rabu, 17 Desember 2025.
Acara yang berlangsung di Ruang Sidang Dekanat FISIP ini menjadi ruang dialektika penting bagi mahasiswa dan akademisi. Dibuka dengan penuh semangat oleh dua orang Master of Ceremony (MC), Jouray dan Aulia, suasana hangat langsung terasa sejak awal sesi dimulai pada pukul 14.00 WIB.
Diskusi utama menghadirkan pakar yang memiliki irisan unik antara ilmu teknik dan kemanusiaan, Prof. Dr. Dr. Bambang Istijono, S.Tr.Spl., S.S.T, M.Eng. Beliau memaparkan bahwa respon bencana yang efektif tidak bisa hanya mengandalkan "beton dan alat berat".
Dibawah panduan moderator Azizah, diskusi ini menguliti bagaimana antropologi berperan sebagai jembatan antara kebutuhan teknis di lapangan dengan realitas sosial masyarakat terdampak. Prof. Bambang menekankan bahwa masyarakat Indonesia memiliki memori kolektif terhadap bencana yang sering kali diabaikan oleh para perencana kebijakan pusat.
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah pentingnya Local Wisdom atau kearifan lokal. Prof. Bambang menjelaskan bahwa banyak komunitas lokal di Indonesia telah memiliki mekanisme pertahanan diri yang diwariskan secara turun-temurun melalui mitos, tradisi lisan, maupun arsitektur bangunan.
"Bencana seringkali menjadi 'bencana' justru karena kita
mengabaikan cara masyarakat lokal berinteraksi dengan alamnya,"
ungkap Prof. Bambang dalam paparannya.
Sebagai contoh, arsitektur rumah tradisional di berbagai wilayah rawan gempa di Indonesia dirancang untuk lentur mengikuti guncangan. Namun, modernisasi yang tidak berbasis budaya sering kali menggantikannya dengan bangunan beton yang kaku dan justru membahayakan penghuninya saat terjadi bencana. Di sinilah antropolog berperan untuk mengidentifikasi dan mengintegrasikan nilai-nilai lokal tersebut ke dalam protokol mitigasi modern.
Selain budaya, dinamika sosial menjadi fokus utama kedua. Azizah, selaku moderator, mengarahkan diskusi pada bagaimana struktur sosial di sebuah desa atau kota mempengaruhi kecepatan pemulihan pasca-bencana.
Prof. Bambang memaparkan bahwa bencana sering kali memperdalam ketimpangan sosial. Kelompok marjinal cenderung menjadi yang paling terdampak. Namun, antropologi juga menunjukkan adanya Social Capital (modal sosial) yang luar biasa dalam masyarakat kita, seperti tradisi gotong royong dan sistem kekerabatan yang kuat, yang sering kali bekerja lebih cepat daripada bantuan resmi pemerintah.
Puncak dari kuliah umum ini adalah pembahasan mengenai perumusan kebijakan publik. Selama ini, kebijakan respon bencana sering bersifat top-down (dari atas ke bawah). Prof. Bambang mendorong adanya pergeseran menuju kebijakan yang bersifat bottom-up dan inklusif.
Integrasi antropologi dalam kebijakan publik berarti melibatkan etnografi dalam setiap tahapannya. Kebijakan relokasi, misalnya, tidak akan berhasil jika masyarakat nelayan dipindahkan ke daerah pegunungan hanya karena lahan tersebut dianggap aman. Tanpa memahami mata pencaharian dan struktur sosial mereka, kebijakan tersebut hanya akan menciptakan masalah sosial baru.
Kuliah umum ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang dinamis. Penekanan utamanya adalah bahwa mitigasi bencana di masa depan harus merupakan hasil kolaborasi transdisiplin. Ilmu teknik menyediakan alatnya, sementara antropologi menyediakan jiwanya.
Jouray dan Aulia selaku MC menutup acara dengan mengajak seluruh peserta untuk melihat bencana bukan hanya sebagai ancaman, tetapi sebagai pengingat untuk kembali mengenali budaya dan memanusiakan sesama dalam setiap kebijakan yang diambil. Dengan dibukanya Antrofest 2025 melalui diskusi fundamental ini, diharapkan generasi muda antropologi semakin kritis dalam memberikan kontribusi nyata bagi ketangguhan bangsa menghadapi bencana.
