
Kontributor
Nofri Elfira Dahnil,S.Kom
ANTROPOLOGI - Ruang-ruang diskusi akademis di lingkungan perguruan tinggi sering kali dipersepsikan sebagai tempat yang kaku, formal, dan dipenuhi oleh istilah-istilah teoretis yang sulit dicerna oleh khalayak luas. Namun, anggapan tersebut dipatahkan secara menarik oleh mahasiswa Jurusan Antropologi Universitas Andalas melalui sebuah inisiatif diskusi publik yang dikemas ciamik bertajuk NGANTRO, singkatan dari Ngopi Bareng Anak Antrop. Memadukan suasana hangat khas kumpul santai sambil menikmati secangkir kopi, kegiatan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali tradisi wacana kritis di kalangan mahasiswa dalam atmosfer yang inklusif, akrab, dan menyenangkan. Pada edisi kali ini, NGANTRO melangkah lebih jauh dengan mengangkat tema besar yang sangat krusial serta relevan terhadap dinamika sosial-budaya masyarakat modern saat ini, yaitu mengenai imperialisme kebudayaan, kolonialitas, dan gerakan dekolonial.
Selain membedah persoalan imperialisme budaya, agenda diskusi ini juga menyoroti konsep kolonialitas yang tidak kalah penting untuk dipahami oleh generasi muda. Meskipun era kolonialisme secara bentuk fisik, administratif, dan politik formal telah lama usai dari bumi Nusantara, struktur kekuasaan, hierarki pengetahuan, serta cara pandang kolonial rupanya masih terus bertahan dan mengakar kuat dalam tatanan sosial masyarakat pascakolonial. Kolonialitas membuat masyarakat tanpa disadari kerap memandang pengetahuan, tradisi, dan kearifan lokal sebagai sesuatu yang inferior, kuno, atau tertinggal jika dibandingkan dengan standar pengetahuan serta kemajuan peradaban Barat. Bias pandangan inilah yang kemudian melahirkan krisis identitas budaya di kalangan masyarakat berkembang.
Untuk memandu jalannya alur dialog agar tetap tajam, terarah, dan berbobot, kegiatan ini menghadirkan Muhammad Zaki Ramadan atau yang akrab disapa M. Zaki Ramadhan sebagai pemantik diskusi utama. Berbekal latar belakang keilmuan antropologi yang fokus pada kajian manusia dan kebudayaan, sosok pemantik akan membuka cakrawala berpikir para peserta serta memicu dialog interaktif dua arah tanpa adanya sekat antara pembicara dan pendengar. Berdasarkan informasi resmi pada flyer, acara NGANTRO ini dijadwalkan berlangsung pada hari Rabu, 16 September 2026, mulai pukul 16.00 WIB dan mengambil lokasi di Pelataran B Gedung FISIP Universitas Andalas. Pemilihan lokasi di area pelataran terbuka gedung perkuliahan semakin mempertegas konsep acara yang merakyat, bebas sekat, serta sangat terbuka bagi siapa saja dari lintas disiplin ilmu yang ingin bergabung untuk belajar dan berbagi gagasan bersama.
Pada akhirnya, penyelenggaraan kegiatan NGANTRO: Ngopi Bareng Anak Antrop menjadi bukti konkret bahwa ruang-ruang pemikiran intelektual dapat dihidupkan kembali dengan cara yang sangat menyenangkan, inklusif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa. Isu-isu ilmu sosial yang terkesan berat seperti imperialisme budaya, kolonialitas, hingga gerakan dekolonisasi dapat ditransformasikan menjadi bahan obrolan yang segar, ringan, namun tetap kaya akan bobot substansi. Acara ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk mengasah daya kritis dan memperluas cakrawala keilmuan, tetapi juga menjadi tempat yang sangat efektif untuk membangun jaringan, mempererat tali silaturahmi, serta memupuk solidaritas antar mahasiswa dari berbagai latar belakang jurusan. Bagi Anda para mahasiswa, akademisi, maupun masyarakat umum yang mendambakan ruang diskusi alternatif yang hangat dan bermakna, agenda NGANTRO adalah ruang yang sangat tepat untuk datang melingkar, menyeduh kopi, dan merayakan ide-ide kritis bersama demi masa depan kebudayaan yang lebih inklusif.
