
Kontributor
Nofri Elfira Dahnil,S.Kom
PADANG, antropologi.fisip.unand.ac.id — Dalam rangka memperluas cakrawala berpikir akademis dan merespons dinamika perubahan sosial budaya yang kian akseleratif, Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas sukses menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk "Antropologi dan Tantangan Globalisasi". Kegiatan akademik yang bernilai strategis ini menghadirkan pakar antropologi terkemuka di Indonesia, yaitu Prof. Dr. Irwan Abdullah, yang merupakan Guru Besar Antropologi dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kuliah umum yang dilaksanakan pada hari Senin, 22 Juni 2026 ini bertempat di Ruang Sidang Dekanat FISIP Lantai 2, Kampus Unand Limau Manis, Padang. Acara dimulai tepat pukul 10.00 WIB hingga selesai. Agenda ilmiah ini dihadiri secara antusias oleh jajaran pimpinan fakultas, para dosen di lingkungan Departemen Antropologi, serta ratusan mahasiswa baik dari program sarjana (S1) maupun pascasarjana (S2) Antropologi Sosial yang tampak memadati ruangan demi menimba ilmu langsung dari salah satu tokoh pemikir kebudayaan kontemporer Indonesia tersebut. Kolaborasi apik antara Departemen Antropologi dan Keluarga Mahasiswa (KEM) Antropologi Unand menjadi kunci kelancaran pelaksanaan agenda ini.
Dalam pemaparannya yang memukau, Prof. Dr. Irwan Abdullah mengupas tuntas mengenai pergeseran epistemologis dan metodologis dalam disiplin ilmu antropologi di era modern. Menurut beliau, globalisasi tidak lagi boleh dipandang sekadar sebagai fenomena ekonomi atau integrasi pasar global semata, melainkan sebuah penetrasi kultural yang masif yang meredefinisi ruang, waktu, dan identitas manusia. Antropologi, yang secara historis berakar pada kajian masyarakat lokal dan tradisi kecil (little tradition), kini ditantang untuk mampu membaca keterhubungan (interconnectedness) antara hal-hal lokal (the local) dengan konstelasi global (the global).
Beliau menekankan bahwa proses globalisasi melahirkan paradoks budaya yang sangat kompleks. Di satu sisi, terjadi homogenisasi budaya di mana gaya hidup urban global menyebar ke seluruh pelosok dunia melalui teknologi informasi digital. Namun di sisi lain, muncul pula arus glokalisasi serta resistensi budaya yang melahirkan fragmentasi identitas baru. Di sinilah relevansi antropologi diuji sejauh mana para peneliti dan mahasiswa antropologi mampu menggunakan alat analisisnya untuk membongkar ketimpangan, komodifikasi budaya, dan perubahan struktur sosial yang dipicu oleh teknologi digital dan keterbukaan informasi.
"Antropologi tidak boleh terpenjara dalam romantisme masa lalu atau sekadar mengagumi eksotisme tradisi. Tantangan globalisasi menuntut kita untuk memposisikan antropologi sebagai ilmu yang aplikatif, kritis, dan solutif terhadap problem-problem kemanusiaan modern," tegas Prof. Irwan Abdullah di sela-sela pemaparannya.
Lebih lanjut, forum ilmiah ini juga mendiskusikan pentingnya revitalisasi metode penelitian antropologi. Prof. Irwan Abdullah mendorong civitas akademika Departemen Antropologi Universitas Andalas untuk mulai mengadopsi pendekatan multi-sited ethnography (etnografi multi-situs) dan etnografi digital (netnografi). Batas-batas fisik desa atau komunitas geografis kini telah bergeser ke ruang-ruang virtual dan komunitas digital. Oleh karena itu, kemampuan membaca data digital dan interaksi manusia di media sosial menjadi keterampilan yang wajib dimiliki oleh antropolog masa kini.
Bagi mahasiswa S1 dan S2 Antropologi FISIP Unand, kuliah umum ini menjadi stimulus yang sangat berharga dalam penyusunan proposal penelitian, skripsi, maupun tesis mereka. Diskusi interaktif yang berlangsung hingga siang hari membedah berbagai studi kasus riil, mulai dari pergeseran nilai kekerabatan akibat migrasi virtual, dampak pariwisata global terhadap ketahanan budaya lokal, hingga transformasi mata pencaharian tradisional di era ekonomi siber.
Pelaksanaan kuliah umum berskala nasional ini juga menjadi bukti nyata dari komitmen berkelanjutan Departemen Antropologi FISIP Universitas Andalas dalam mempertahankan dan meningkatkan mutu akademik, sejalan dengan semangat Kampus Merdeka Indonesia Jaya. Dengan menghadirkan pakar eksternal sekaliber Prof. Irwan Abdullah, departemen berupaya memastikan bahwa iklim akademis di kampus tetap dinamis, kompetitif, dan adaptif terhadap standar pendidikan tinggi global setelah sebelumnya sukses melewati berbagai penilaian mutu internasional.
Ketua Departemen Antropologi FISIP Unand dalam sambutan penutupnya menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kesediaan Prof. Irwan Abdullah untuk berbagi ilmu dan pengalaman yang mencerahkan di Kampus Universitas Andalas. Pihak departemen berharap kerja sama akademik antar-perguruan tinggi seperti ini dapat terus terjalin erat di masa mendatang, baik dalam bentuk kolaborasi riset, publikasi bersama, maupun pertukaran dosen dan mahasiswa, guna mendukung kemajuan ilmu antropologi di Indonesia. Kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif, foto bersama, dan penyerahan cendera mata kepada narasumber.
