
Kontributor
Nofri Elfira Dahnil,S.Kom
PADANG — Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas (UNAND) bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Sumatera Barat menggelar Diseminasi Hasil Penelitian bertajuk “Merawat Ingatan Nagari: Pemetaan Budaya Pascabencana di Batu Busuk Kota Padang”. Forum diseminasi ilmiah dan ruang dialog publik ini dilaksanakan pada Selasa, 21 September 2026, bertempat di Ruang Sidang Departemen Antropologi, Gedung Dekanat FISIP UNAND.
Diseminasi pada dasarnya merupakan wadah akademis yang bertujuan menyebarluaskan riset lapangan mahasiswa agar tidak berhenti sebagai dokumen kearsipan atau tugas akhir semata. Melalui forum ini, mahasiswa peneliti mempresentasikan temuan lapangannya secara langsung di hadapan publik akademik dan pemangku kepentingan kebudayaan, sekaligus menguji serta menguji gagasan melalui tanggapan dan masukan kritis dari para peserta yang hadir.
Isu kebencanaan, perubahan lingkungan, dan dinamika kebudayaan masyarakat menjadi fokus utama dalam riset mahasiswa ini. Kawasan Batu Busuk yang terletak di hulu Sungai Batang Kuranji, Kota Padang, dipilih sebagai lokasi pemetaan karena karakteristik geografis dan kebudayaannya yang memiliki keterikatan historis kuat dengan bentang alam sekitar. Salah satu poin krusial yang dipresentasikan oleh mahasiswa peneliti dalam diseminasi ini adalah transformasi fisik dan lingkungan pascabencana di kawasan Hulu Batang Kuranji. Berdasarkan observasi lapangan, pemetaan spasial, dan penelusuran sejarah ruang yang dilakukan oleh tim mahasiswa, kondisi bentang sungai di Batu Busuk mengalami perubahan yang sangat signifikan pascabencana.
Dalam paparan presentasinya, mahasiswa menunjukkan bahwa lebar badan Sungai Batang Kuranji di area hulu kini melebar hingga sekitar tiga kali lipat jika dibandingkan dengan alur sungai pada kondisi semula. Pelebaran alur sungai yang masif ini diikuti oleh pergeseran material sedimen, perubahan kontur tanah hulu, serta hilangnya sejumlah vegetasi dan lahan warga di sepanjang bantaran sungai.
Perubahan fisik bentang alam ini tidak sekadar menjadi persoalan kerusakan ekologis atau degradasi lingkungan semata. Luapan air dan pelebaran sungai secara langsung telah mengubah lanskap pemukiman, kawasan pertanian, titik-titik kegiatan ekonomi, hingga ruang-ruang publik yang selama ini berfungsi sebagai pusat interaksi sosial masyarakat Batu Busuk. Dalam perspektif antropologi kebudayaan yang diangkat oleh mahasiswa periset, ruang hidup (living space) tidak pernah dipahami sekadar sebagai koordinat geografis atau hamparan tanah fisik belaka. Lebih dari itu, ruang merupakan arena sosial yang dihidupi oleh ingatan kolektif, jejak sejarah, identitas kultural, serta ikatan emosional warga yang mendiaminya.
Perubahan lanskap yang terjadi secara drastis akibat bencana alam secara otomatis mengusik dan menggeser ingatan spasial masyarakat (landscape memory). Tempat-tempat yang dulunya menyimpan kenangan kolektif, seperti tepian sungai tempat berinteraksi, lahan garapan turun-temurun, atau penanda alur tradisional nagari, kini mengalami pergeseran atau bahkan hilang terkikis aliran sungai.
Melalui riset pemetaan budaya ini, mahasiswa periset berupaya merekam bagaimana warga Batu Busuk merespons, merekonstruksi, dan memaknai perubahan ruang hidup mereka. Penelitian ini menyoroti berbagai bentuk kearifan lokal (local wisdom) dan adaptasi budaya yang diterapkan masyarakat untuk bertahan hidup, merawat ingatan kolektif atas nagari mereka, serta membangun relasi adaptif dengan kondisi lingkungan fisik yang baru.
Kerja sama antara Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Sumatera Barat dan Departemen Antropologi UNAND dalam memfasilitasi presentasi riset mahasiswa ini menjadi manifestasi nyata sinergi antara lembaga kebudayaan dan perguruan tinggi. Hasil kajian mahasiswa ini menegaskan pentingnya memasukkan dimensi kebudayaan dan suara masyarakat lokal ke dalam perencanaan penataan ruang dan kebijakan mitigasi bencana.
