WhatsApp Image 2026 05 25 at 08.58.12 2

Kontributor
Nofri Elfira Dahnil,S.Kom

PADANG, ANTROPOLOGI.FISIP.UNAND – Dalam rangka memeriahkan momentum bersejarah perayaan Dies Natalis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas yang ke-33, Departemen Antropologi UNAND resmi menggelar agenda akademik dan kebudayaan akbar berskala nasional. Membuka rangkaian acara pada hari pertama, Kamis, 21 Mei 2026, departemen sukses melangsungkan Seminar Nasional yang bertempat di Gedung Dekanat FISIP Lantai 2, Kampus Limau Manis, Padang.

Sesuai dengan tajuk utama yang diangkat, seminar hari pertama ini berfokus mendalam pada tema "Mentawai Kini: Antara Kearifan Lokal, Perlindungan Hak dan Tantangan Modernisasi". Agenda ini dirancang khusus sebagai ruang refleksi dan diskusi ilmiah mutakhir untuk membedah realitas komparatif, benturan regulasi, serta bagaimana strategi perlindungan hak kemanusiaan dan kebudayaan masyarakat adat di Kepulauan Mentawai hari ini. Forum ini juga menjadi jembatan penting untuk menghubungkan pemikiran teoretis di menara gading kampus dengan realitas empiris yang dihadapi oleh masyarakat di pelosok daerah.

Acara formal ini diawali dengan laporan dan sambutan dari jajaran pimpinan yang mengawal penuh jalannya kegiatan. Prof. Dr. Zainal Arifin, M.Hum. selaku Kepala Departemen Antropologi memberikan pandangan pengantar mengenai pentingnya konsistensi riset antropologis di Kepulauan Mentawai. Kajian kemasyarakatan ini dinilai sangat krusial agar perguruan tinggi tidak berjarak dengan realitas sosial, terutama dalam mengawal eksistensi komunitas marginal yang kerap menghadapi tekanan perubahan zaman.

Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Dekan FISIP Universitas Andalas, Dr. Jendrius, M.Si. Dalam pidatonya, beliau menekankan pentingnya sumbangsih pemikiran kritis dari perguruan tinggi terhadap isu-isu masyarakat marginal dan lokal di Sumatra Barat. Menurutnya, Mentawai bukan sekadar laboratorium penelitian bagi para akademisi, melainkan subjek kebudayaan luhur yang hak-hak adatnya harus dihormati dan dilindungi di tengah gencarnya arus pembangunan nasional. Keberhasilan penyelenggaraan seluruh rangkaian kegiatan hari pertama ini juga didukung penuh oleh kerja keras tim kepanitiaan di bawah arahan Dr. Maskota Delfi, M.Hum. selaku Koordinator Kegiatan yang mengupayakan muatan substansi acara tersampaikan dengan utuh.

Dipandu secara dinamis oleh Dr. Noviy Hasanah, S.Sos., M.Hum. selaku moderator, sesi utama seminar nasional ini menghadirkan empat narasumber ahli yang membedah tema Mentawai secara tajam dari berbagai latar belakang instansi, otoritas, dan bidang keahlian:

  • Prof. Dr. Obing Katubi, M.A. (BRIN): Membedah Mentawai dari perspektif riset murni skala nasional, khususnya mengenai pentingnya dokumentasi kebahasaan, pelestarian tradisi lisan, serta perlindungan hukum atas pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh masyarakat adat. Beliau mengingatkan bahwa hilangnya kosa kata lokal merupakan awal dari runtuhnya struktur pengetahuan dan peradaban sebuah suku bangsa.
  • Febrianti (Jurnalis Tempo): Memberikan pemaparan empiris dari sudut pandang jurnalisme investigatif mengenai potret nyata benturan modal, dinamika pariwisata massal, serta bagaimana komunitas lokal di pelosok Mentawai berjuang mempertahankan kedaulatan ruang hidup mereka di tengah eksploitasi wilayah.
  • Dr. Zaiyardam Zubir (Dosen FIB-UNAND): Mengulas aspek kesejarahan, arkeologi, serta dinamika sosial-budaya yang membentuk konstruksi masyarakat Mentawai, guna memberikan pemahaman mendalam bahwa gerak modernisasi tidak boleh merusak tatanan nilai asli yang menjadi pondasi identitas setempat.
  • Jop Sirirui, S.Pd. SD. (Kadis DIKBUD Kab. Kepulauan Mentawai): Selaku perwakilan otoritas daerah, beliau memaparkan tantangan nyata di lapangan dalam mengintegrasikan sistem pendidikan formal dengan kebijakan kebudayaan daerah agar tetap adaptif serta berpihak pada perlindungan hak-hak kultural anak-anak Mentawai.

Seminar yang dihadiri oleh para dosen, peneliti, serta mahasiswa S1 dan S2 Antropologi Sosial ini berlangsung sangat interaktif hingga sore hari. Forum ilmiah ini berhasil merumuskan berbagai rekomendasi akademik yang konkret, terutama terkait pentingnya regulasi hukum daerah yang berpihak pada sistem sosial Uma, penguatan ekosistem ekonomi lokal, serta perlunya riset partisipatif yang berkelanjutan.

Rangkaian acara dalam rangka Dies Natalis FISIP-UNAND Ke-33 oleh Departemen Antropologi UNAND tidak berhenti di sini. Setelah merampungkan agenda seminar di hari pertama, rangkaian acara akan berlanjut pada hari kedua, Jumat, 22 Mei 2026, dengan agenda Pameran Kebudayaan Mentawai yang bertempat di Selasar Gedung B FISIP Universitas Andalas. Rangkaian pameran ini terbuka bagi seluruh civitas akademika dan umum sebagai refleksi visual sekaligus apresiasi terhadap kekayaan peradaban di Bumi Sikerei.